[google37929ada0511e260.html] Alfath Cuing-Cincau℠: Mei 2016 [google37929ada0511e260.html]

Senin, 23 Mei 2016

Ketika hati harus Move On


Tidaklah seorang muslim katakan galau dalam hidupnya. Ketika hati diuji bukan berarti dia sedang galau. Dalam Islam namanya adalah futur.
Arrraaagghhh...
Jaga hati dari hati yang kurang berhati-hati. Memang suatu kewajiban kita untuk selalu istiqomah di jalan ridho Ilahi. Namun, tak semua dapat mencapainya dengan pasti.
Menjadi anak kampus kuno, tak berarti ndak modern. Hidup di pinggiran sungai bengawanlah yang terasa menjadi kuno. Padahal negri ini kaya akan batiknya. Sebagai anak kampus kuno memang terasa tak ada bandingnya dengan sungai bengawan atau batiknya. Namun, hari ini adalah hari bersejarah dalam hidupku di kampus kuno, negeri batik di pinggiran sungai bengawan.
Saat ku harus menangis karena ujian di kampus ini bukan karena kekunoannya. Namun, karena tak bandingannya dengan kampus lain dalam syarat ujiannya.
Teringat dengan seorang mahasiswa kampus Baky di sebrang kota. Yang menangis juga karena hal yang sama ujiannya. Aku tak ingin seperti jejaknya. Namun, kampus baky dengan kampus kuno ini bagai adik berkakak yang tak saling mengaku.
Cukup sampai disini sebuah fenomena tangisan air mata bagi anak kampus baky dan kampus kuno. Aku berasa risih dengan segalanya. Namun, apa daya yang akan diperbuat. Itulah tantangan bagi kampus kampungnya ilmu fiqih.
Teman, janganlah menyerah. Semua ujian hidup yang Allahberikan pada kita adalah memang kita mampu untuk melaksanakannya. So, doing please. Isbir falakal jannah. Ingat ayat terakhir dalam surat Al-Baqarah. Untuk pelipur lara duka yang menganga bagi para manusia yang merasa tak mampu di uji.
Salam move on dari anak kampus kuno teruntuk semuanya terutama kakak-kakak di kampus baky.
#omancincaucilowa #pandawakuningan

Jumat, 20 Mei 2016

Belajar dari MDC Solo



Aku berpikir sejenak mengingat pembelajaran dengan MDC Solo bulan kemarin. Dan, tertuang tulisan yang ingin aku ajukan untuk MDC tentang sebuah warung. Warung diidentifikasikan menjadi ajang untuk silaturahmi bagi ibu-ibu di setiap pagi, siang maupun sore bahkan malam tiba. Waktu pagi adalah waktu ramainya warung, apalagi persiapan untuk sarapan anak sekolah juga bapak-bapak yang mau berselancar mencari ridho Ilahi untuk menafkahi istri juga anaknya. Jangan kebalik antara istri dan anak. Karena sebelum adanya anak adalah istri, si ibu dari anak yang dilahirkan.
Definisi waktu warung selanjutnya adalah saat jam-jam agak siang. Biasanya ibu-ibu kembali ke warung berniat untuk berbelanja. Namun, merasa tak punya kesibukan di rumah. Karena pekerjaan rumah sudah terselesaikan sejak anaknya berangkat sekolah. Maka ibu-ibu yang suka berbelanja di warung juga suka melakukan hal yang jelek ini. Apa itu? GOSIP. Yah, itulah bahasa kerennya, padahal itu sedikit berbau bahasa Inggris. Secara bahasa arabnya adalah GHIBAH. Dan tanpa sadar ibu yang tak suka gosip pun ikut nimbrung dan mendengarnya. Waduh,! Dosanya semakin menyebarkan. Dan berita yang disebar pun tak mungkin kalau seputar fikih apalgi aqidah. Yang sok pasti mesti yang kurang penting atau bahkan gak penting sama sekali.
Dan kata yang tepat untuk sebuah warung ala #omancincaucilowa adalah :
WARUNG!!!
Bukan tempat HANSIP, Apalagi GOSiP.
Setuju, ibu-ibu?
Semoga usulanku dapat diterima di MDC Solo. Harapan dalam benak.