[google37929ada0511e260.html] Alfath Cuing-Cincau℠ [google37929ada0511e260.html]

Jumat, 20 Mei 2016

Belajar dari MDC Solo



Aku berpikir sejenak mengingat pembelajaran dengan MDC Solo bulan kemarin. Dan, tertuang tulisan yang ingin aku ajukan untuk MDC tentang sebuah warung. Warung diidentifikasikan menjadi ajang untuk silaturahmi bagi ibu-ibu di setiap pagi, siang maupun sore bahkan malam tiba. Waktu pagi adalah waktu ramainya warung, apalagi persiapan untuk sarapan anak sekolah juga bapak-bapak yang mau berselancar mencari ridho Ilahi untuk menafkahi istri juga anaknya. Jangan kebalik antara istri dan anak. Karena sebelum adanya anak adalah istri, si ibu dari anak yang dilahirkan.
Definisi waktu warung selanjutnya adalah saat jam-jam agak siang. Biasanya ibu-ibu kembali ke warung berniat untuk berbelanja. Namun, merasa tak punya kesibukan di rumah. Karena pekerjaan rumah sudah terselesaikan sejak anaknya berangkat sekolah. Maka ibu-ibu yang suka berbelanja di warung juga suka melakukan hal yang jelek ini. Apa itu? GOSIP. Yah, itulah bahasa kerennya, padahal itu sedikit berbau bahasa Inggris. Secara bahasa arabnya adalah GHIBAH. Dan tanpa sadar ibu yang tak suka gosip pun ikut nimbrung dan mendengarnya. Waduh,! Dosanya semakin menyebarkan. Dan berita yang disebar pun tak mungkin kalau seputar fikih apalgi aqidah. Yang sok pasti mesti yang kurang penting atau bahkan gak penting sama sekali.
Dan kata yang tepat untuk sebuah warung ala #omancincaucilowa adalah :
WARUNG!!!
Bukan tempat HANSIP, Apalagi GOSiP.
Setuju, ibu-ibu?
Semoga usulanku dapat diterima di MDC Solo. Harapan dalam benak.





Semoga di Kuningan ada seperti ini. aamiin...
#omancincaucilowa