[google37929ada0511e260.html] Alfath Cuing-Cincau℠ [google37929ada0511e260.html]

Rabu, 31 Agustus 2016

Pandangan Pertama Dengan Bhineka



Kota Kuda adalah kota yang terletak di ujung timur Jawa Barat. Kota yang terkenal kota pusat pariwisata tersebut adalah kotaku, kota Kuningan. Dengan kota wisata, maka tak pernah terlewatkan dengan para wisatawan yang berdatangan.
Biasanya, rombongan dari berbagai kota menggunakan bis pariwisata. Jadi semakin terasa nuansa wisatanya dengan bis khusus. Salah satunya adalah bis Bhineka. Aku tak kenal jauh dengan bis tersebut, darimana ia berasal juga PO-nya dimana pun aku tak tahu. Namun, pandangan pertama tentang menjadikan kisah pandangan pertama.
Alkisah, aku sedang berjalan di trotoar sepanjang jalur wisata. Jalan Siliwangi memang jalan utama kota. Sehingga sering macet dengan bis pariwisata termasuk juga bis yang baru aku temui ini, yaitu bis Bhineka. Aku terheran-heran dengan bis yang bergambarkan beda. Beda dari yang lainnya. Karena biasanya, bis-bis kota atau pariwisata cukup dengan nuansa polos dan nama sesuai tipe bisnya.
Gambar yang bernuansa 3 dimensi (3D) itu membuat orang terpukau melihatnya, sehingga akan berpikiran positif terhadap apa yang ada didalamnya. Baik supir, kondektur, tempat juga pelayanannya. Aku pun melihatnya seperti kota indah dengan cahaya. Padahal di kotaku tak pernah ku lihat gedung menjulang tinggi. Namun, nuansa gambar tersebut menjadikanku seperti di kota metropolitan.
Itulah singkat cerita dengan pandangan pertama yang menghasilkan energi positif bagi yang melihatnya. Sehingga aku pun penasaran untuk mencobanya. Semoga dengan pengalama ini aku dapat pergi ke Bandung menjenguk adik dengan bis Bhineka Sangkuriang. Aamiin...



Pahlawan Era Mega untuk Masa Joko



Seseorang yang pernah menjadi penyelamat biasa disebut dengan Pahlawan. Tak semua orang bisa menjadi pahlawan, tapi pasti pernah menjadi pahlawan bagi orang lain selama hidupnya. Karena menjadi pahlawan tak harus terkenal.
Aku adalah seorang wanita, pahlawan bagi hidupku juga keluargaku. Kedua bidang yang sangat aku kenang sebagai seorang pahlawan. Sejak kecil, pada masa-masa sekolah dasar adalah waktunya untuk focus belajar. Namun tak terjadi dalam hidupku. Hidup di masa era ekonomi Indonesia sulit, di bawah pimpinan presiden perempuan saat itu. Aku harus membantu ekonomi keluarga. Selain sekolah dan belajar. Aku harus membantu ibu berjualan.
Ibuku adalah seorang pemalu. Namun, pemberani di dalam keluarga. Ibu mengajak-ku dan anak kedua untuk membantu ibu berjualan. Ibu membuat produk gorengan. Dan kami berdua berjualan keliling desa untuk menjajakannya. Karena ibu melihat, di desa tempat kami tinggal belum ada satu pun penjual gorengan keliling. Hanya ada satu penjual gorengan itu pun yang dititip di warung setiap paginya.
Akhirnya misi itupun terwujudkan. Hari demi hari kami berjualan setiap usai shalat shubuh. Dimana teman-temanku masih berada di bawah hangatnya selimut, aku sudh berteriak di depan rumahnya dengan dinginnya suasana shubuh. Karena gorengan ibu tidak seperti penjual lainnya dalam hal rasa dan model, maka semakin hari semakin laris. Aku bersama adik pun semakin semangat menjajakannya. Karena tawaran bisa sekolah dan dapat uang jajan adalah harga mati bagiku.
Berjualan gorengan memang tak seberapa untungnya. Namun, cukup untuk menghidupi kehidupan sehari-hari. Ketika tidak laku, maka aku akan jadikan lauk sisa jualan pagi itu. Sudah hampir 3 tahun lebih aku menjalani hidup seperti itu. Rajin bangun pagi untuk mengejar cita-cita duniawi. Kalaulah tidak seperti itu, maka dengan apa aku bisa sekolah dan jajan. Karena pahlawan dalam keluarga tak semampu yang lain. Ayahku hanya sekedar buruh tani, yang cukup untuk biaya beberapa hari. Jika ibu tidak punya inisiatif ini, maka akan semakin mencekik kehidupan kami.
Itulah sedikit pengalamanku untuk menjadi seorang pahlawan dalam hidupku dan hidup keluarga. Wahai manusia, menjadi pahlawan itu tak kenal waktu juga kondisi. Kita butuh pahlawan hebat pada zaman sekarang. Dimana mencari orang-orang tangguh seperti dulu sudah sangat langka di masa pak Joko.
Di hari kemerdekaan Indonesia yang baru sampai di gerbang kata UUD ’45. Itulah sempilan kata ketika aku masih SD. Padahal anak kecil tahu apa tentang kemerdekaan saat itu. Harusnya bersyukur dengan suasana yang minimal merdeka tak seperti zaman penjajahan. Memang tak dapat dipungkiri, kita semua sedang dijajah oleh media dan era zaman. Hanya saja kita tak menyadarinya. Cukup dengan kita sadar tak dapat kemudian bisa dikatakan merdeka tentunya. Kembali saya ingatkan, jadilah pahlawan kemerdekaan bagi nafsu diri kita sendiri, kemudian mampu menjadi pahlawan untuk orang lain.
Saya mendukung tulisan ini dengan mengikuti lomba Supermal Karawaci”. Semoga dapat menjadi inspirasi bagi pahlawan masa kini. Salam dari penulis.

#SUPERMALKARACI #PAHLAWANMASAKINI #omancincaucilowa #alfath2010 #alfathcuingcincau

Minggu, 28 Agustus 2016

Doa Abang Untuk Ustadz Izza

Hari akhir pekan menjadi kesempatan abang untuk menelpon mas-nya di Jawa, tepatnya di sentra batik Solo. Merasa rindu juga terus di sms agar menelpon akhirnya abang pun menelpon mamas-nya itu. Sebagai bentuk rasa kasihan katanya, padahal sama-sama saling rindu. Karena jarang abang denganku yang ujung Jawa Tengah dengan kota metropolitan Jawa Barat yang jauh di mato.
Abang banyak berpetuah di pagi hari itu. Bahwa aku harus banyak bersyukur kuliah di Jawa yang serba murah. Hidup abang lebih mahal di sana. Aku bisa sekali makan lima ribu kenyang di sini. Sedang di sana kurang baginya untuk memenuhi nafsu makan yang lapar dengan uang segitu.
Tak hanya sekedar syukur atas murahnya dunia Solo. Tapi juga untuk tetap berdisiplin dalam hidup yang lingkungannya sudah kondusif. Jangan 'hera-hera' katanya. Hidup sudah enak bukan nambah enak, tapi manfaat segala yang sudah bak dan kondusif itu.
Itulah semua nasehat abang padaku. Setelah itu, abang memberi kabar tentang Ustadz Izza yang masih sakit kakinya. Semenjak kecelakaan beberapa bulan lalu, ustadz itu belum juga pulih. Kasihan kata Abang. Karena beliau patah tulang di bagian paha. Selama beberapa bulan tidak menggerakkan kaki dan akhirnya otot-otot kaki menjadi kaku. Kasihan kata Abang, minta doanya saja semoga ustadz cept di beri kesembuhan. Agar bisa melanjutkan study-nya seperti Abang.
Abang memang sayang pada ustadz tersebut. Walau sayang itu tak harus nampak juga di ucapkan. Bentuk perhatian Abang pada teman-temannya masih merajut di dalam hati sanubari. Ia tak pernah lupa dengan teman-temannya. Dimana pun ia mesti akan bertanya-tanya kabar temannya. Abang pernah bilang, berpisah itu hanyalah raga tapi hati tetaplah ada untuk tetap bersama.
Abang tak pernah minder dengan temannya yang sudah pada menjadi seorang ustadz. Kata Abang, ndak papa nggak jadi ustadz, Abang masih punya keahlian di bidang lain yang tak perlu orang tahu.
Untuk Ustadz Izza, doa 'Allahumasyfiih atau Allahumasyfiika' terucap dari kami. The Six Of Children el-Qomaru. (Mas, Abang, Kakak, Aa, Dede, Neng-almh-.) Tetap sabar dan istiqomah.
Semoga Allah selalu melindunginya. Aamiin.
Doa dari Solo, Bandung, Kuningan dan Cirebon. Salam dan doa kami untuk Ustadz Izza.

Kamis, 25 Agustus 2016

Walau Orang Sunda, Aku Ingin Ke Papua



Siapa yang tak kenal dengan Papua? Mungkin ia bukan orang Indonesia. Pulau yang terkenal dengan istilah hitam gelap tak akan mengalahkan cita-citaku yang ingin pergi merantau kesana.
Banyak teman-teman kuliah mengejekku karena ingin pergi ke pulau orang negro katanya. Aku akui aku bukan turunan negro, karena aku berasal dari Sunda. Sangat berkebalikan sekali dengan khas kulitnya orang Papua. Namun bagiku tak semua orang Sunda berkulit putih begitu pun dengan Papua, tak semua orang Papua berkulit hitam.
Dalam hidupku, kita jangan saling menghina karena warna kulit yang berbeda. Aku punya alasan tersendiri karena ingin pergi kesana. Apalagi waktu libur kuliah sebentar lagi. Karena aku mengambil cuti kuliah saat lebaran idul Adha. Waktu dimana saatnya wangi sate dan kebahagiaan muslim tersebar di seluruh pelosok negri termasuk Papua.
Banyak orang menginginkan wisata yang sudah biasa terkenal. Kini aku akan mengenalkan sosok Papua yang indah. Yang tak jauh terkenalnya juga mempesona bagi para pengunjungnya. Diantara wisata yang ingin aku singgahi adalah kepulauan Raja Ampat, Kota Fak-fak dan Taman Nasional Cendrawasih.


Di kepulauan Raja Ampat terhampar laut yang luas dan indah mempesona. Sedangkan Raja Ampat sendiri terkenal karena memang di sana adalah daerah yang mayoritas kaum muslimnya. Sehingga sunggguh luar biasa bagi semua orang yang belum mengetahui perkembangan Islam di sana yang sangat pesat.






Kota Fak-fak terkenal dengan sebuah cerita dengan sebutan ‘Ustadz Sabun’. Karena katanya di sana terkenal dengan seorang ustadz yang menyebarkan Islam melalui media sabun. Mengajarkan orang Papua mandi yang bersih dengan sabun. Kemudian kepala sukunya terkagum atas ajaran Islam yang mengajarkan kebersihan. Sehingga seluruh masyarakatnya mandi bersama di pinggiran sungai dengan memakai celana oblong. Tentu dengan kekagumannya atas sebuah sabun. Dan akhirnya semua warga di sana masuk Islam berkat sabun sebagai pengantarnya.
Inilah yang menjadi kekagumanku akan kota Fak-fak. Di sana juga termasuk kota wisata yang terkenal. Ada situs Purbakala Tapurarang yang terkenal dengan lukisan warna merahnya. Lukisan tebing yang bentuknya mirip dengan lukisan tangan.


Ada juga air Terjun Kitikiti yang airnya langsung jatuh ke laut. Air terjun yang berbeda tempat muaranya dengan air terjun lainnya.

Tak kalah menarik dengan terkenal kaum Muslim tersebut. Disana ada Masjid Tua Patimburak. Wisata religi yang bisa dilaksanakan di sana. Bangunannya sudah terkenal tua.


Itulah sekilas tentang indahnya negri pulau Papua. Yang orang mengenal hanya hitam orangnya tanpa melihat betapa jernih tempat wisatanya. Pada kesempatan ini, saya tak lupa ingin mengungkapkan cita-cita pergi kesana melalui tiket pesawat gratis yang diadakan airpaz.com. Semoga saya dapat berlibur bersama hewan qurban di sana, minta doa dari teman-teman. Walau tak dapat kusambangi negri Papua, masih ada hari esok yang lebih tepat untuk aku kunjungi.

Disini, saya juga sudah cari-cari tiket sebagai harapan besar saya. Karena ingin terbang bersama Sriwijaya. Terimakasih airpaz.com atas tawaran tiket pesawatnya.