[google37929ada0511e260.html] Alfath Cuing-Cincau℠: September 2016 [google37929ada0511e260.html]

Senin, 26 September 2016

Cerita anak KOS (Kamar Orang Sebrang-an)


Suatu hari di dalam kamar yang terdiri dari pandawa. Diantaranya adalah Al asal Kuningan, Bang Didin asal Poso, mas Shalih asal Klaten, Mahmud asal Magetan dan yang terakhir adalah kak Alif dari Riau.
Sebagai anak kampus, kami biasa mendapat kiriman setiap bulannya. Kecuali si Shalih yang suka dikirim ayahnya setiap minggu sembari di jenguk.
Gengsi? Udah gede kok masih di jenguk. Nggak lah ya. Kan dia paling dari Solo. Jadi biasa saja bagi kami.
Shalih: Huhuhu....aku nggak pernah dijenguk, rintihnya Shalih di sudut kamar Pandawa Malik itu.
Nimbrung-lah anak rantau luar Jawa dengan serentak. Al anak sunda, bang Din anak Toraja dan kak Alif anak tanah Riau.
“Huhuhu,,,, kami juga nggak pernah dijenguk.....”
Akhirnya, me-merahlah wajah bang Shalih menahan malu sore itu.

Bersambung...

Selasa, 06 September 2016

Kamis, 01 September 2016

Memang Penting Kok, Sensor itu

Dalam dunia media perfilman Indonesia memang sangat kurang perhatian dengan dunia sensor. Terkadang ada saja film yang tanpa sensor tayang di stasiun televisi swasta. Dengan kecerobohan karena kurang kontrolnya sensor ini menyebabkan para netizen komentar dimana-mana. Dan akhirnya mengurangi rating film tersebut. Bahkan ada yang sampai dituntut untuk dibubarkan.
Dunia film tanpa sensor bagai santan kelapa tanpa disaring. Karena film tak pernah tahu ada saja yang senonoh masuk didalamnya. Baik adegan, ucapan, bahkan pakaian sang pemain filmnya.
Entah siapa yang akan disalahkan. Sebenarnya, film merupakan salah satu inspirasi hidup dari seseorang untuk orang lain. Tentu dalam hal kebaikannya. Sebagai contoh cerita berihkmah bagi anak-anak. Dengan dunia yang zaman semakin menggilanya, anak-anak sekarang lebih suka diajak nonton film disbanding mendengarkan cerita ibunya.
Saat itulah, film akrtun berhikmah akan memerankan tugasnya sebagai contoh untuk hidup anak-anak. Jika mereka tidak dapat memahami isi film kartun anak, maka seorang ibu harus bisa menjelaskan pada anaknya bahwa film ini mengajarkan untuk berbuat baik kepada sesama misalkan.
Budaya sensor film kartun anak di stasiun televise ini masih sangat kurang dalam hal ketatnya. Karena masih saja ada film kartun yang tayang dengan adegan mesum. Sudah banyak orang mengetahui film kartun yang beragam, terutama film yang berbau seksualitas. Kini, apa yang mereka lakukan selama kerja kantor untuk sensor? Mengapa masih saja kecolongan dengan film-film yang tak pantas untuk anak-anak tahu.
Di dalam dunia film, ada sebuah hormon motorik yang akan meresap ke dalam otak manusia. Kemudian dia akan menyaring apa-apa yang masuk melalui mata dan telinganya. Ketika itu, otak akan bekerja tentang apa yang akan didapat dari penglihatan dan pendengarannya. Karena respontivenya seseorang akan terjadi saat itu juga.
Factor penyebab itulah yang akan menghasilkan karakter seseorang yang telah menonton film. Sehingga menjadikan baik buruknya apa yang akan dilakukan seseorang setelah menonton film adalah sesuai dengan apa yang ia tonton. Oleh karenanya, sesuatu yang buruk terjadi pada anak bisa jadi dari hasil tontonan yang kurang baik.
Sebagai media sensor, maka alangkah baiknya jika aka nada film yang akan tayang di sensor dengan baik, benar dan tepat. Budaya ini menjadi baik bai kita semua. Agar muda-mudi kita tidak terhanyut dengan film non-sensor.
Sebagai usulan juga untuk para pekerja di bidang sensor. Agar budaya baik Indonesia dengan nilai ketimurannya lebih baik ditanamkan di film-film anak. Daripada film-film yang kurang bermutu masih tayang dengan seenaknya saja. Padahal, dengan adanya film yang memotivasi tersebut akan membuat anak-anak juga termotivasi. Seperti halnya film Laskar Pelangi yang pernah buming di negri kita ini. Semoga bermanfaat. Terimakasih Lembaga Sensor Film. #AyoSensorMandiri