[google37929ada0511e260.html] Alfath Cuing-Cincau℠: Belajar dari sosok Ibu Tri [google37929ada0511e260.html]

Jumat, 27 November 2015

Belajar dari sosok Ibu Tri



Belajar dari sosok Ibu Tri

Hidup dalam lingkup jamaah tentulah dengan aturan yang syar’I dan tetap pada jalan yang benar. Apalagi jamaahnya jamaah kaum muslimin. Bersatu tetap teguh, bagai sapu lidi yang tak dapat dipisahkan.
Inilah kehidupanku. Hidup dalam sebuah asrama yang tentu dan pasti ada sebuah halaqoh yang senantiasa mengikat kehidupan orang asrama. Dan disana hidup seorang pimpinannya, biasa disebut murobiyah bagi sebagian kalangan. Ada juga yang mengatakan sang pencerah bagi kehidupannya. Ibu Tri namanya.
Belajar dari sosok kelembutannya, aku merasa malu menjadi seorang wanita yang belum bisa lembut. Belajar dari keilmuannya, memang beliau bukanlah ber-background alumni pesantren. Namun, kesungguhan beliau dalam menuntut ilmu agama di usia yang sudah cukup lanjut tak mengalahkannya. Hingga di usia berkepala 2, beliau dapat menyelesaikan hapalan mushaf al-Qur’an dengan begitu cepat. Itulah barakah ilmu bagi beliau yang Allah anugrahkan padanya.
Yang paling aku takutkan ketika melihat wajahnya di kampus atau asrama bukanlah wajah seramnya seperti garangnya ibu jahat. Namun, wajahnya yang teguh mampu membuatu takut sama Allah, karena aku merasa telah berbuat dosa pada Allah. Bukan takut pada ibu Trinya, tapi melalui wajah beliau sebagai wasilah aku menjadi bulu kuduk-ku merinding.
Pernah suatu pagi, jadwal setoran hapalan al-Qur’an sama bu Tri. Dari sejak malam aku sudah tegang, hingga ketika aku berangkat dari asrama ke rumah beliau pun rasa tegang itu tak hilang. Antrian dengan mahasiswa lain pun terus berlanjut, hingga giliranku yang terakhir. Dan waktu sudah terlihat matahari memunculkan sinarnya. Kisaran jam 6 kurang lebih. Aku pun maju sesuai dengan kemampuan hapalanku yang pas-pasan dan biasa. Di akhir biasanya ada petuah, agar senantiasa diperbaiki kembali tahsin, tajwid dan makhorijul hurufnya. Dan kali ini beda. Beliau berkata, “Ko tegang begitu sich?”. “Iya, bu. Baru saja saya perjalanan dari asrama ke sini, tegang sudah membuatku basah kuyup di pagi hari” jawabku.
Masyaallah, tabarakallahu ta’ala. Padahal rumah beliau itu hanya kisaran 50 meter dari asrama. Keluar dari gerbang dan menyebarang jalan. Kemudian masuk area masjid, pilih jalan paling ujung masjid. Itulah rumah beliau. Seperti rumahnya Rasulullah. Disamping masjid. Kiasan sedikitlah.
Ketika kita menjadi muslim yang dapat menjadikan seseorang mengingat Allah, maka tiada tara pahala bagi hambanya. Dengan perilaku yang agak aneh ini. Semoga dapat menjadikan kemudahan bagi beliau kelak. Terutama ketika beliau akan melahirkan. Bulan depan beliau akan cuti dari kampus juga asramaku. Karena udzur akan melahirakan. Kisaran 3 bulanan beliau akan meninggalkan ruang kuliahku. Dan sudah tiga 4 kali beliau melahirkan titipan Allah dalam rahimnya dengan ragam ujian. Mulai caesar, keguguran dan sungsang. Namun, beliau tak ada terlihat dalam wajahnya yang menyerah. Selalu tampak ceria dan jernih. Kuat dan tabah. Sabar dan syukur. Tabarakallahu ta’ala.
Dan dalam artikel santai ini, aku akan tulisan harapan impian doa dan cita-citaku. Agar Allah meliputinya dalam kemudahan disaat melahirkan anak yang ke-5 ini. Tambahan doanya laki-laki. Dan yang paling utama adalah lahir normal sebagaimana wanita biasa, selamat, sehat dan barakah. Aamiin…

Salam rindu.
SFA asal Kuningan, Jawa Barat

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar