[google37929ada0511e260.html] Alfath Cuing-Cincau℠: HUKUM ADZAN DAN IQOMAH BAGI WANITA [google37929ada0511e260.html]

Rabu, 28 Oktober 2015

HUKUM ADZAN DAN IQOMAH BAGI WANITA



 PENDAHULUAN
Adzan dan iqamah sudah tidak asing lagi di telinga kita. Dikumandangkan sebagai tanda sudah masuknya waktu sholat. Adzan dan iqamah dikumandangkan oleh  seorang muadzin. Yang mana kebanyakan muadzin ini adalah laki-laki. Mengapa tidak pernah terdengar seorang wanita mengumandangkan adzan? Bagaimana sebenarnya hukum adzan bagi wanita? Bagaimana pula hukum iqamah baginya? Berikut  akan dipaparkan penjelasan tentang permasalahan diatas.
Pengertian adzan dan iqamah
1.      Adzan
Secara bahasa: al-i’lam yaitu pemberitahuan.[1] Panggilan untuk sholat.[2]
Secara istilah: pemberitahuan waktu sholat dengan lafadz yag khusus.[3]
Pengertian adzan menurut para imam madzhab, diantaranya:
a.       Malikiyah: Pemberitahuan waktu sholat dengan lafadz-lafadz yang khusus.
b.      Hanafiyah: Pemberitahuan yang khusus didalam waktu khusus.
c.       Syafi’iyah: Perkataan yang khusus diketahui dengannya waktu sholat wajib.
d.      Hanabilah: Lafadz yang diketahui dan disyari’atkan dalam waktu-waktu sholat untuk memberitahukan waktunya atau memberitahu masuk atau dekatnya waktu sholat.[4]

2.      Iqomah
Secara bahasa: Berasal dari kata dasar aqama, artinya orang yang menegakkan sesuatu, yakni jika ia meluruskan sesuatu tersebut.[5]
Secara istilah: Ibadah kepada Allah SWT dengan mengucapkan lafadz-lafadz tertentu untuk memulai mendirikan sholat.[6] Pemberitahuan untuk berdiri ketika sholat dengan lafadz yang khusus.[7]
Dalil adzan dan iqamah bagi wanita
            Tidak disebutkan dalil yang shohih diwajibkannya adzan bagi wanita. Begitu juga sebaliknya, tidak terdapat dalil yang melarang hal tersebut. Dan ini sebagian dalil atsar yang disebutkan beserta sebagian pendapat para ulama.
1.      Dalil dari as-Sunnah

عن أمِّ ورقة الأنصارية: أنّ رسول الله صلى الله عليه وسلم جغل لها مؤذنّا يؤذّن لها, وأمرها أن تؤمّ أهل دارها  (رواه أحمد و أبى داود)
“Dari Ummu Waraqah ra. Al-Anshariyah[8]: Bahwa Rasulullah SAW mengangkat seorang muadzin yang menyerukan adzan untuknya, dan beliau mengizinkan Ummu Waraqah menjadi imam keluarganya” ( HR. Imam Ahmad dan  Abu Daud )
عن وهب بن كيسان قال : سئل ابن عمر هل على النساء أذان فغضب قال : أنهى عن ذكر الله ؟ (رواه ابن أبي شيبة في سند حسن)

“Dari Wahab bin Kayisan berkata: Ibnu Umar ditanya: “Apakah atas wanita adzan?” Marahkah Ibnu Umar (mendengar perkataan itu), lalu ia berkata: “Apakah pantas aku melarang dari mengingat Allah?.” ( HR. OIbnu Abi Syaibah dengan sanad hasan)

2.      Dari Atsar
Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah ra. Bahwasannya dia berkata: Diperbolehkan iqamat bagi wanita jika ia menghendaki.
3.      Dari Qiyas
a.       Pada dasarnya adzan disyari’atkan bagi laki-laki sebagai pemberitahuan, dan tidak disyari’atkan bagi wanita.
b.      Adzan disyari’atkan untuk meninggikan suara dan wanita tidak disyari’atkan meninggikan suara karena didalamnya terdapat fitnah.[9]
Hukum Adzan dan Iqamah Bagi Wanita
Adzan sama sekali bukan hak wanita, tidak boleh bagi wanita untuk mengumandangkan adzan, karena adzan termasuk perkara-perkara yang zhahir dan ditampakkan.[10]
Wanita tidak diwajibkan untuk mengumandangkan adzan ataupun iqamah. Seperi itulah yang dikatakan Ibnu Umar, Anas, Sa’id bin Al Musayyab, Al Hasan, Ibnu Sirrin, An-Nakha’I, At- Tsauri, Malik, Abu Tsaur, Ashab Ar-Ra’yi.[11]
Adzan yang dilakukan untuk pelaksanaan shalat wanita dimakruhkan menurut 3 imam kecuali Syafi’i. Imam Syafi’I berkata, “Adzan bagi wanita jika terjadi di kalangan pria dimakruhkan, jika terjadi dikalangan wanita adalah batil, diharamkan jika bertujuan untuk menyerupai laki-laki, adapun jika tidak bertujuan demikian maka hukumnya batil, dan tidak dimakruhkan jika tidak meninggikan suaranya.”[12]
Disunahkan bagi kaum wanita melaksanakan iqamah dan tidak untuk adzan,[13] karena adzan adalah pemberitahuan untuk manusia, dan fitnah wanita menyebabkan kematian.[14]
            Jumhur fuqaha telah bersepakat bahwasannya tidak ada adzan dan iqamah bagi wanita. Begitu juga adzan dan iqamah mereka untuk jamaah wanita atau sendiri. Adapun adzan dan iqamah untuk jamaah wanita atau sendirinya, para fuqaha telah berbeda pendapat tentang hokum tersebut. Dalam kitab Ahkam wan Nidaa wal Iqamah terdapat empat pendapat, yaitu:
Pendapat pertama: Dimakruhkan bagi wanita adzan dan iqamah menrut madzhab Hanafiyah, sebagian pendapat Malikiyah, begitupun pendapat Syafi’iyah dan madzab Hanabilah. Dan makruh menurut Malikiyah disini tidak sampai pelarangan, dan sebagian Hanabilah menjelaskan tidak ada keshahihan adzan dan iqamah bagi mereka.
Pendapat kedua: Dimakruhkan bagi wanita adzan, dan disunnahkan iqamah. Ini pendapat masyhur dan mu’tamad[15] menurut madzab Malikiyah. Sah menurut Syafi’iyah dan diriwayatkan oleh Hanabilah.
Akan tetapi, Imam Syafi’I mengecualikan apabila wanita adzan dan tidak mengangkat suaranya maka tidak makruh, bahwasannya itu merupakan dzikir kepada Alloh SWT.,  apabila wanita mengangkat suaranya ketika adzan  kemudian didengar oleh laki-laki ajnabi[16] hukumnya haram.
Pendapat ketiga: Disunnahkan bagi wanita adzan dan iqamah tanpa mengangkat suara, ini merupakan pendapat Syafi’iyah. Adapun menurut Hanabilah ada 2 pendapat yaitu:
1.      Mutlak
2.      Dengan merendahkan suara
Pendapat keempat: Diperbolehkan bagi wanita adzan dan iqamah dengan merendahkan suara, ini merupakan riwayat dari Hanabilah.[17]
Pendapat yang rojih
Yaitu pendapat keempat yang memperbolehkan dan tidak disunnahkan bagi wanita adzan begitu pula iqamah, disebabkan oleh:
1.      Telah jelas disyari’atkannya adzan yaitu sebagai pemberitahuan bagi manusia agar berkumpul untuk sholat. Adapun wanita tidak tertuntut untuk memenuhi panggilan adzan ketika mendengarnya, dan yang lebih utama bagi wanita adalah sholat dirumahnya. Oleh karena itu tidak disunnahkan bagi wanita adzan dan iqamah
2.       Nabi tidak memberitahukan bahwa disunnahkannya adzan dan iqamah bagi wanita atau mempelajarinya. Walaupun adzan dan iqamah merupakan syari’at pada hakikatnya untuk dipelajari sebagaimana mempelajari cara mandi haid dan janabah.
3.      Pendapat keempat merupakan pendapat sebagian sahabat.
PENUTUP
Hukum adzan dan iqamah bagi wanita menurut pendapat yang rajih diperbolehkan jika wanita itu berada ditengah-tengah jama’ah wanita dan tidak ada laki-laki. Karena apabila suara adzan seorang wanita didengar oleh laki-laki ajnabi akan menimbulkan fitnah. Serta tidak ada satupun dalil yang menyebutkan tentang diperbolehkan adzan bagi wanita dan begitu juga larangan baginya. Wallahu a’lam bish showab.















REFERENSI
Al-Adawy, Musthofa. 2008. Jami’ Ahkaamun Nisa’. Jilid. 1. Cet. 1. Mesir: Dar Ibnu ‘Affan
Al-Andalusi, Ibnu Hazm. 2003. Al-Muhalla bil Atsar. Jilid. 2. Cet. 1. Beirut: Dar Al-Kutub Al-IlmiyaH
Al-Hazimy, Sami Faroj ‘Abdu. 1425 H. Ahkam Al-Adzan Wan-Nidaa Wal Iqomah. Cet. 1. Dar Ibnu Al-Jauzi
Al-Jaziry, Abdurrohman. 2003. Kitab Al-Fiqh ‘ala Madzab Al-Arba’ah. Jilid.1 Dar At-Taqwa
Al-‘Umroni, Abi Al-Khoir. 2009. Al-Bayan Fi Syarh Al-Muhazzab. Jilid. 1. Cet. 1. Beirut: Dar Al-Fikr
Az-Zuhaili, Wahbah. 2005. Al-Wajiz. Jilid. 1. Cet. 1. Damaskus: Dar Al-Fikri
Ibnu Qudamah. 2007. Al-Mughni. Terj. Ahmad Hotib, Fathurrahman. Jilid. 1. Cet. 1. Jakarta: Pustaka Azzam
Dr. Az-Zuhaili, Muhammad. 1992 M. Al-Muhadzib fi fiqhil imam Syafi’i. Cet. 1. Damaskus: Dar Al-Qolam. Bairut: Dar As-Syamiyah
Salim, Abu Malik Kamal bin As-Sayyid. 2011 M. Shohih Fiqih Sunnah. Jilid. 1. Cet. 6. Jakarta: Pustaka At-Tazkia
Syaikh, Asy-, Muhammad bin Ibrahim, dkk. 2001 M. Fatwa-Fatwa Tentang Wanita. Jakarta: Dar Haq
Unais, Ibrahim, dkk. 1972M. Al-Majmu’ Al-Wasith. Cet. 2. Kairo


[1] Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim, Shohih fiqih sunnah.jilid 1 hal 270.Doktor Wahbah Az-Zuhaili, Al-Wajiiz,, jilid 1 hal 143. Doktor Wahbah Az-Zuhaili, fiqhislam wa adillatuhu jilid 1 hal 533, Abdurrahman Al-Jazairy, Kitab Fiqh ‘ala Madzhab Arba’ah, jilid 1, hal. 281
[2] Ibrohim Unais dkk, Mu’jamul Wasith,hal 31, Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 1, hal. 659
[3] Doktor Wahbah Az-Zuhaili, Al-Wajiiz,, jilid 1 hal 143. Al ‘Umrani, Al-Bayan fi Syarh Al-Muhaddzab, jilid 1, hal. 247
[4] Sami bin Faroj Al- Hazimi, Ahkaamul Azan wan Nida’ wal Iqomah hal 24
[5] Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim, Shohih fiqih sunnah.jilid 1 hal 270
[6] ibid
[7] Sami bin Faroj Al- Hazimi, Ahkaamul Azan wan Nida’ wal Iqomah hal 25

[8] Yaitu Ummu Waraqah bin Harits bin Amru bin Abdillah bin Al-Harits bin ‘Uwaimiro bin Naufal Al-Anshariyah
[9] Sami bin Faroj Al- Hazimi, Ahkaamul Adzan wan Nidaa wal Iqomah hal 354, Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 2, hal.80, Musthafa Al-‘Adawy, Jaami’ Ahkam An-Nisaa, jilid 1, hal.243
[10]Amir bin Yahya Al Wazan, Fatwa-fatwa tentang wanita, jilid.1 hal.117
[11] Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 1 hal.693
[12] Abdurrahman Al-Jazairy, Kitab Al-Fiqh ‘ala Madzhab Arba’ah, jilid 1, hal. 290
[13] Dr. Wahbah Az-Zuhaily, Al-Wajiz, hal 146
[14] Muhammad bin Al-Farrai Al-Baghawi, At-Tadzhib fi Fiqh Imam Syafi’i, jilid 2, hal.47
[15] Jelas, dapat dipecaya.
[16] Orang asing bukan muhrim
[17] Sami bin Faroj Al- Hazimi, Ahkaamul Azan wan Nida’ wal Iqomah hal 351 - 352

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar