[google37929ada0511e260.html] Alfath Cuing-Cincau℠: Mengaku Universitas Islam, Tapi ... [google37929ada0511e260.html]

Kamis, 29 Oktober 2015

Mengaku Universitas Islam, Tapi ...

Renungan untuk kita semua. Dan bentuk kehati-hatian terhadap aliansi aneh-aneh yang ada di universitas. Karena, jangankan kampus negeri, toh kampus yang mengaku berlabel Univ.Islam saja terkadang nyeleneh. Ilmu yang harusnya menundukkan dirinya. Malah menjadikannya sesat pun ada.
Simak sedikit pidato ini. Semoga bermanfaat.

Kewajiban seorang muslim sebelum beramal adalah berilmu. Agar aqidahnya lurus dan terjaga maka harus memupuknya dengan ilmu. Kemunkaran terbesar dalam pandangan Islam, adalah kemunkaran di bidang aqidah Islamiyah atau kemunkaran yang mengubah dasar-dasar Islam. Kerusakan di bidang ilmu-ilmu dasar Islami ini ternyata telah puluhan tahun merambah perguruan-perguruan tinggi Islam. Ada skenario dan grand design di balik ini semua. Jadi, mencegah kemunkaran adalah sesuatu perkara yang sangat serius kedudukannya dalam ajaran Islam. Allah SWT berfirman dalam surat Ali-Imran : 104 ,
يؤمنون بالله واليوم الأخر ويأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر ويسارعون فىالخيرات وألئك من الصالحين
           
Studi Islam bukanlah mata kuliah yang diminati banyak mahasiswa. Karena dianggap tifak dapat menjamin masa depan. Pelajar-pelajar unggulan lebih diarahkan oleh orang tuanya untuk menimba ilmu dunia dan bukan ilmu agama. Sehingga orang dapat gelar sarjana agama, apapun kualitas keilmuannya, sekedar cari gelar untuk cari kerja, sekedar sambilan yang dianggap semacam siraman rohani. Tokoh dihargai dan dihormati oleh masyarakat luas, bukan karena kedalaman ilmu dan kesalehan amalnya, tetapi karena kepandaian bicaranya, dan juga gelar K.H. sebagai symbol dari ulama.
Umat Islam Indonesia tidak peduli dan tidak melihat masalah yang amat serius ini dengan cermat. Setiap tahun, ratusan sarjana agama dikirim untuk belajar tentang Islam di Barat, belajar pada orientalis Yahudi dan Kristen. Mengapa umat Islam tidak serius menyiapkan sarjana-sarjana yang unggul, yang tidak kalah kualitasnya dengan para orientalis?
            Untuk mengangkat martabat kampus, saat ini ada upaya-upaya perguruan tinggi Islam untuk membesarkan diri dengan cara memekarkan dirinya menjadi universitas. Fakultas-fakultas jurusan umum dibuka. Ternyata, justru fakultas baru itulah yang kebanjiran peminat, jauh melampaui minat masuk ke fakultas agama. Masalah keilmuan dan pendidikan islm semakin pelik lagi, karena dari jurusan-jurusan agama, justru muncul pemikiran-pemikiran yang justru dekonstruktif terhadap keilmuan Islam itu sendiri. Tiga tantangan besar yang ditimpakan peradaban Barat terhadap umat Islam saat ini adalah kristenisasi, orientalisme, dan imperialisme modern.


            Tiga puluh tahun yang lalu, cendekiawan muslim Prof. Dr. HM Rasjidi mengingatkan bahaya penggunaan metode Orientalis dalam studi Islam di IAIN, UIN dan perguruan tinggi Islam lainnya. Nasihat dan peringatan Rasjidi itu tidak diperhatikan. Kini, menjadi kenyataan.
            Dari kampus-kampus berlabel Islam bermunculan pemikiran dan gerakan ‘aneh’.
1.      Dari IAIN Bandung, muncul teriakan yang menghebohkan, “Selamat bergabung di area bebas tuhan.”
2.      Tahun 2004, IAIN Yogyakarta membuat sejarah baru dalam tradisi keilmuan Islam, dengan meluluskan sebuah tesis master yang menyerang kesucian dan otentisitas Al-Qur’an.
3.      Dari Fakultas Syari’ah IAIN Semarang, lahir jurnal yang menyerang Al-Qur’an dan memperjuangkan legalisasi perkawinan homoseksual. Pluralisme agama dan relativisme kebenaran –paham syirik modern yang menyerukan kebenaran semua agama- justru disebarkan dan diajarkan di lingkungan perguruan tinggi Islam.
4.      Dari UIN Jakarta, sejumlah dosennyajustru menjadi pendukung gerakan perkawinan antar agama.
5.      Dan paling menghebohkan Indonesia tahun 2014 ini adalah



Ada apa sebenarnya dengan kondisi dan arah studi Islam di perguruan tinggi Islam di Indonesia saat ini?. Mengapa begitu mudahnya framework Orientalis dalam studi Islam menghegemoni wacana studi Islam? Hegemoni orientalis Barat dalam studi Islam terbukti telah membawa dampak yang serius dalam kehidupan keagamaan di Indonesia.

Saat inilah seyogyanya IAIN/UIN/STAIN dan kampus-kampus Islam lainnya melakukan perenungan yang mendalam dan serius serta bertanggung jawab –dunia dan akhirat- atas muatan, metodologi, kualitas, dan arah pendidikan studi Islam di kampus-kampus. Tujuan utama pendidikan Islam tingkat tinggi, adalah untuk melahirkan sarjana-sarjana Muslim yang memiliki kualifikasi keilmuan Islam yang mumpuni, menjadi panutan dalam amal sekaligus mampu menjadi pusat kajian ilmu keislaman sebagai jalan untuk membangun kembali peradaban Islam yang agung. Dengan itu, mudah-mudahan kampus IAIN/UIN/STAIN/PTIS tidak menjadi agen pengembangan paham neo-liberalisme di bidang agama yang sedang gencar-gencarnya dijejalkan ke institusi-institusi pendidikan Islam dengan tawaran duniawi yang menggiurkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar