[google37929ada0511e260.html] Alfath Cuing-Cincau℠: Mencintai Kebaikan Bagi Orang Lain [google37929ada0511e260.html]

Rabu, 28 Oktober 2015

Mencintai Kebaikan Bagi Orang Lain



Mencintai Kebaikan Bagi Orang Lain
 Oleh : Ibnu El-Qomaru
عَنْ أَبِي حَمْزَةَ أَنَسْ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، خَادِمُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى  اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِه[رواه البخاري ومسلم]
“Diriwayatkan dari Abu Hamzah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, pelayan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bahwasannya Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Salah seorang dari kalian tidaklah beriman (secara sempurna) sehingga dia mencintai kebaikan untuk saudaranya, sebagaimana dia mencintai kebaikan untuk dirinya sendiri”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Cinta dan sayang memang hal yang manusiawi pada manusia. Allah menganugerahi perasaan cinta pada setiap insan. Bahkan Allah juga menurunkan aturan berkaitan dengan cinta.
Rasulullah menjelaskan bahwa salah satu dari ciri kesempurnaan iman seseorang adalah dia memberikan porsi kecintaan terhadap saudaranya seiman melebihi cintanya pada dirinya. Maksud hadits diatas adalah dia mencntai kebaikan bagi saudaranya berupa bentuk-bentuk ketaatan dan hal-hal yang mubah.
Seorang mukmin merasa senang dan gembira bila saudaranya seiman merasakan hal yang sama dengan yang dia rasakan. Begitu juga, dia ingin agar saudaranya itu mendapatkan kebaikan seperti yang dianugerahkan kepadanya. Hal ini bisa terealisasi manakala dada seorang mukmin secara sempurna terselamatkan dari penyakit dengki dan hasad (iri).
Hendaklah seorang mukmin mencintai kaum mukminin sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri, begitu pula dia tidak suka sesuatu yang jelek terjadi terhadap mereka sebagaimana dia tidak suka hal itu terjadi pada dirinya. Jika dia melihat ada kekurangan dalam masalah agama pada saudaranya se-iman maka dia berupaya dengan serius untuk sedapat mungkin memperbaikinya. Oleh karena itu, seyogyanya dia mencintai kebaikan untuk saudaranya, sebagaimana dia mencintai kebaikan itu untuk dirinya sendiri. Sebab, antara dirinya dengan orang lain adalah satu jiwa, sebagaimana diebutkan pada hadits yang lain, “Orang beiman itu laksana satu tubuh; jika ada salah satu organ tubuh yang mengaduh maka seluruh anggota tubuhnya turut merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (Muttafaq ‘alaih)
Muslimah yang tulus yang benar-benar menyukai saudaranya melebihi dirinya sendiri, maka ia tidak lupa berdoa untuk saudaranya dalam ketiadaannya. Dengan menjadikan Islam sebagai identitas utama kita untuk mencintai saudara seiman atas dasar kepatuhan kepada Allah ta’ala adalah satu-satunya hal yang akan menyelamatkan kita di hari Kebangkitan kelak. Wallahu’alam.

Referensi:
Fathul Bari’, Zainudin Abi Al-Faraj bin Rajab Al-Hanbali, 1/45
Shahih Muslim, An-Nawawi, 8/384
Syarh Hadits Arba’in, Imam An-Nawawi, 177

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar