[google37929ada0511e260.html] Alfath Cuing-Cincau℠: Surat Untuk Ayah [google37929ada0511e260.html]

Kamis, 29 Oktober 2015

Surat Untuk Ayah

Created by : Bintu Faisal - Sukoharjo, Jawa Tengah
Sewaktu sekolah ditingkat menengah pertama, aku aktif di organisasi sekolah dan kegiatan ekstrakulikuler setiap hari. Yang membuatku sibuk hingga terkadang telat pulang kerumah. Berangkat pagi, pulang petang. Dan membuat Ayah marah padaku setiap hari.
Ayah, masih ingatkah ketika puncak marahnya Ayah saat itu, engkau berpesan: “kamu gak boleh pacaran selama sekolah. Kalau kamu pacaran, kamu gak boleh lagi sekolah.” Dan Ayah bilang: “lebih baik menikah saja dari pada kamu pacaran!”
Ayah, saat itu juga aku takut tidak bisa lanjut sekolah karena pacaran. Aku sangat menjaga pesan Ayah selama sekolah. Aku sangat menjaga pergaulanku di sekolah. Sehingga aku menyeratakan semua teman itu sama, baik kaya maupun miskin, laki-laki maupun perempuan, pintar maupun biasa-biasa saja. Karena ketakutanku akan hal pacaran, ketika berteman dengan laki-laki aku lakukan seperlunya saja, jika ada yang macam-macam aku langsung berontak. Pernah suatu hari, saat maraknya hp dikalanganku. Ada seorang teman laki-laki yang meminta no hpku lewat teman sekelasku. Telingaku panas mendengar hal itu. Sepulang dari sekolah, aku langsung cegat temanku tadi. Dan ku-marahi dia habis-habisan. “heh! Ngapain kamu tanya-tanya no hp? gak usah macam-macam!” Itulah yang menjadikan karakterku keras, hingga aku dijuluki cewek tomboy. Namun, itulah senjata diriku Ayah, hingga tak pernah ada lelaki berani berbuat macam-macam padaku. Dan inilah hal kebanggaan bagiku, masa remaja kulalui tanpa pacaran, walau harus menyetarakan kesetaraan dalam berteman. Dan tak bisa juga dipungkiri, vmj hampir menyerangku. Karena itulah usia remaja yang sedang puber, Ayah. Namun kuhalangi itu akan pesan Ayah.
Ayah, aku tahu hal ini yang terbaik bagiku setelah aku pahami agama dengan benar. Aku harus berbakti padamu selagi itu benar. Hingga harapan belajar dijenjang kuliah pun aku lakukan tanpa menyelisihi nasehatmu. Ayah, selama usiaku masih cukup untuk belajar dan berbakti padamu dan ibu. Aku akan lakukan hal itu.
Ayah, aku tahu. Batas baktiku padamu sampai aku dapat pemimpin dalam hidupku. Maka setelah itu, berakhir sudah tanggung jawabmu atasku. Aku sedih ayah, jika kau begitu cepat melepaskanku. Disaat aku masih belum menyempurnakan baktiku padamu. Apa ayah rela melepasku? Padahal aku masih begitu buruk di mata ayah, belum menjadi yang baik dan terbaik. Dan kau serahkan aku begitu saja? Apa ayah rela? Ayah, aku masih ingin bersama ayah dan ibu. Aku ingin cita-cita, harapan dan impian untuk berbakti padamu tercapai semua, di sisa akhir usia taatku padamu.
Aku tahu, ayah pernah kehilangan satu permata cantik dambaan ayah. Dan permata itu sudah menjadi tabungan ayah kelak, insyaallah. Dan kini, permata ayah tinggallah aku. Setelah kau lepas aku. Maka ayah sudah tak punya permata lagi di dunia. Dan ketika itu, aku tahu kalau ayah akan sedih melepasnya. Oleh karenanya ayah, aku tak ingin kau melepasku dengan kesedihanmu. Namun, aku ingin kau melepasku dengan penuh kecintaan dan keridhoanmu.
Suatu saat nanti ayah akan menjual permatamu dengan harga yang mahal. Maka sekarang ayah sedang memolesnya dengan ketulusan cinta dan akhlak mulia. Agar ia indah nan jelita. Ayah juga sudah banyak persaingan dalam perdagangan itu. Apalagi ketika teman baik ayah sudah memesankannya untuk putra mahkotanya. Namun, engkau hebat ayah. Engkau bisa menyanggah pemesanan itu dengan baik. Karena engkau masih memolesnya agar sempurna.
Aku tak menyangka teman baik ayah menginginkan permata yang hanya satu-satunya kau miliki, untuk putra mahkotanya. Ayah harus tahu, itu menunjukkan kalau teman ayah sudah tahu bahwa permata ayah itu sangatlah mahal. Maka ia akan memesan lebih dulu dari yang lainnya.
Ayah, aku tahu. Anak teman ayah itu teman kecilku dulu kan ayah? Namun jarak yang menjauhkanku dengannya hingga aku tak mengenalinya lagi. Ia lebih tua dari umurku kan ayah? Namun, ia teman main sewaktu aku masih kecil. Ketika aku menemani pergi ke halaqahnya ayah dan ibu. Teman-teman ayah pun membawa anaknya. Dan aku bermain dengan anak-anak teman ayah. Namun, umurku tak sebaya dengan mereka, aku paling bungsu diantara anak lainnya.
Ayah, aku takut engkau melepasku dari pangkuanmu sebelum waktu yang matang dan tepat. Aku takut tak berbakti padamu, karena tak menuruti apa katamu lagi. Aku takut dapat mengecewakanmu dan tak dapat melakukan yang terbaik untuk ayah.
Ingatlah ayah, permatamu tak akan salah tangan oleh kehendak Allah. Serahkan semua pada-Nya.  Jika memang anak teman ayah adalah tangan yang baik untuk menggantikan ayah. Maka semua akan terjadi sesuai jalan takdir-Nya. Ingat ayah, aku masih ingin bersua bersamamu. Jangan kau lepas aku, ketika kau marah. Jangan kau tinggakanku, setelah kau sedih. Jangan kau biarkan aku dalam diam-mu. Namun, lepaslah aku dengan jabat tangan kuat, yang tangguhannya dapat menggetarkan ketika masa itu tepat bagiku dan bagimu. Dengan kecintaan dan keridhaan engkau akan melepaskanku, bukan dengan tangisan yang terpaksa namun dengan kebahagiaan dan senyuman yang saling merelakan. Karena menghadapi itu semua perlu bekal yang mantap. Dan aku khawatir bekalku tak cukup bahkan kehabisan di tengah perjalanan. Karena perjalanan itu seumur hidup setelah kau melepasku, karenanya aku ingin mempersiapkan bekalnya dan menjadi yang berharga bagi Ayah.
Aku sayang ayah. Terimakasih ayah.J

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar