[google37929ada0511e260.html] Alfath Cuing-Cincau℠: JANGAN BIARKAN “BULLYING” DI SEKITAR KITA [google37929ada0511e260.html]

Rabu, 28 Oktober 2015

JANGAN BIARKAN “BULLYING” DI SEKITAR KITA



JANGAN BIARKAN “BULLYING” DI SEKITAR KITA
Oleh : Ibnu El-Qomaru

            Bully adalah adanya ancaman dari seorang yang merasa dirinya kuat terhadap seseorang yang dianggap lebih dariya sehingga menimbulkan gangguan psikis. Bully juga dapat diartikan tindakan kekerasan senior pada junior atau kakak kelas pada adik kelas.
            Bentuk-bentuk tindakan bully terbagi menjadi 3, yaitu :
  1. Bentuk verbal biasanya dengan perkataan kasar, menghina, membentak, kata-kata atau tulisan yang menyindir, memanggil dengan julukan nama yang jelek seperti “hey, anak pincang!”.
  2. Bentuk fisik diantaranya menendang, mencubit, meludah, memolototi, memukul, mengambil atau merusak barang orang lain, berkelahi dan tindakan ancaman bahaya fisik untuk memaksa korban bully melakukan sesuatu dan harus sesuai dengan keinginan pem-bully.
  3. Bentuk psikis, dalam bentuk ini biasanya pem-bully melakukan sesuatu yang membuat korbannya semakin lemah dan ketakutan. Diantaranya menyebaran gossip, mengancam, mengintimidasi, mengucilkan, mengisolasi korban dan menghancurkan reputasi korban bahkan harga dirinya.
Tindakan ini umumnya dilakukan anak-anak sekolah. Usia sekolah baik SD maupun perkuliahan bullying rentan terjadi. Pelakuya bisa sesama teman, kakak kelas dengan adik kelas atau senior pada juniornya. Bullying juga bisa terjadi dilingkungan masyarakat. Pelakunya antara geng satu dengan geng lainnya, kakak dengan adik, bahkan orang tua dengan anak.
            Bullying sudah lama terjadi dilingkungan sekitar kita, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Pem-bully melakukan tindakannya dimana saja semau yang diinginkan sehingga dirinya merasa puas. Terjadi ketika masih jam sekolah maupun diluar jam sekolah. Tempat yang sepi dari pegawasan orang tua, guru atau orang dewasa lainnya, toilet sekolah, lorong, pekarangan sekolah, lapangan, kelas, tempat bermain, tempat parkir, tempat menunggu angkutan umum bahkan di mobil jemputan.
            Yang terlibat dalam bully diantaranya pelaku, korban dan saksi. Sedangkan orang tua atau orang dewasa lainnya sebaga peran penengah diantara yang terlibat didalamnya termasuk jika anda sebagai seorang pendidik.
  1. Pelaku
Melakukan perbuatan bully tidak hanya untuk mendapat kepuasan diri saja. Mereka sebenarnya memendam kekerasan berat juga iri pada korban bully-nya. Sehingga mereka melakukan tindakan yang salah ini pada temannya yang lemah sebagai landasan rasa dendamnya. Padahal jiwa mereka pun sama lemahnya. Pelaku bully memiliki sifat berani dan agresif. Mereka tidak meninggalkan sikap negatifnya didepan orang tuanya.
Karena tindakannya sering mengganggu anak ain yang lemah makanya ia sulit berteman dan sulit adaptasi karena ia terbiasa mengontrol orang lain. Kebisaan pelaku mem-bully sejak kecil ia akan mudah melakukan kriminal dan rentan kasus saat dewasa.
  1. Korban
Ciri yang paling menonjol yaitu lemah dan cenderung memiliki harga diri rendah. Korban biasanya lemah karena tekanan dari pelaku yang terus-menerus mengusik. Ia cenderung murung, menyendiri, cengeng, minder, terpojokan, terkucilkan dan down menta. Korban takut dicap penakut, tukang ngadu, bahkan disalahkan. Oleh karena itu, ia merasa benci pada dirinya sendiri yang tidak mampu melakukakn perlawanan atau mempertahankan diri. Maka ia akan depresi bahkan memutuskan untuk bunuh diri. Dengan tekanan yang semakin mengusik, korban akan menyimpan dendam untuk melakukan bully pada teman lainnya. Karena tak jarang korban bully akan menjadi pelaku suatu saat sebagai balas dendamnya terhadap tindakan yang pernah dialaminya.
  1. Saksi
Saksi pun mengalami tekanan psikis, karena ia terancam dan ketakutan akan menjadi korban bully selanjutnya. Sehingga mengalami prestasi yang rendah.
            Banyak faktor yang mempengaruhi hal ini, diantaranya : kurang perhatian, ingin mendapat perhatian dan terkenal (ngetop) bahwa dirinya hebat, keinginan mempertahankan diri/meningkatkan kekuasaan, pencarian identitas remaja, adegan kekerasan dari media atau sering melihat orang tua berkelahi, tidak harmonisnya keluarga, pola asuh serba boleh dan sedikit memberi peraturan.
            Sebagai orang tua/guru/ orang dewasa lainnya dapat memahami anak yang sedang masa ujian perilaku, jangan pernah menyalahkan anak dan mencapnya, jangan biarkan anak menyalahkan si korban namun bantu ia bagaimana kalau dirinya menjadi korban, mengajari keterampilan bersosialisasi, jika masih berlanjut dapat menghubungi konsultan. Anak sekolah pun seharusnya jangan mau menerima bully, tetap ramah dan bersikap baik terhadap korban maupun pelaku dan lakukan diskusi tentang bully.
            Marilah kita hilangkan budaya bully ini dari lingkungan rumah kita dahulu kemudian lingkungan sekolah. Dengan tidak menjadikan diri menjadi korban maupun pelaku.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar